0 0
Read Time:2 Minute, 10 Second

Kota Tangerang-Nusantara1, Buku merupakan pintu ilmu pengetahuan yang sangat luas, membaca buku dapat membuka wawasan kita terhadap dunia yang lebih luas, namun saat ini minat membaca di Indonesia masih sangat rendah, maka dari itu mari kita berhati-hati dalam membaca buku dan jangan lupa setiap tanggal 17 Mei adalah Hari Buku.

Sebelum era digital saat ini, dimana masyarakat dapat mengakses informasi dan pengetahuan dengan cepat dan mudah, buku merupakan sarana bagi masyarakat untuk mencari beragam pengetahuan dan informasi. . Dalam perkembangannya, buku tidak serta merta mengambil bentuk buku yang bisa kita nikmati saat ini. Buku-buku tersebut telah melalui masa evolusi seiring berjalannya waktu.

Mengutip dari Wikipedia, buku adalah kumpulan kertas atau dokumen lain yang diikat pada salah satu ujungnya dan berisi artikel, gambar, atau file lampiran. Setiap sisi selembar kertas dalam sebuah buku disebut halaman. Menurut beberapa sumber, buku-buku Indonesia awalnya dibuat dari gulungan daun lontar. Daun lontar yang telah ditulis akan diikat menjadi satu sehingga membentuk sebuah buku. Seiring berjalannya waktu, buku-buku tersebut mulai mengalami perubahan yang signifikan. Kapan Indonesia mulai mengenal buku? Sejarah mencatat munculnya kitab pertama pada abad ke-9, tepatnya lahirnya benang Ramayana. Serat Ramayana adalah cerita klasik India. Saat itu, wilayah nusantara berada di bawah pengaruh agama Hindu. Kitab Ramayana ditulis dalam bentuk puisi. Banyak sekali surat-surat yang ditulis tentang cerita-cerita dalam sastra India, seperti Mahabharata, Bharatyuddha dan lain-lain.

Pada masa penjajahan Belanda, seluruh kegiatan penerbitan buku dikuasai sepenuhnya oleh pemerintah Belanda. Salah satu bentuk kekuasaannya adalah dengan dibentuknya Komite Bacaan Rakyat yang dibentuk oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 14 September 1908 untuk membantu Direktur Pendidikan dalam menyeleksi buku-buku yang baik untuk dibaca, dibacakan kepada anak-anak di sekolah, serta dibacakan buku-buku kepada siswa. rakyat. Secara umum. Panitia Bacaan Rakyat kemudian berganti nama menjadi Balai Poestaka pada tanggal 22 September 1917. Tujuan didirikannya Balai Poestaka pada mulanya untuk mengembangkan bahasa daerah pertama Hindia Belanda seperti Sunda, Jawa, Madura dan d’bahasa lainnya.

Pasca runtuhnya Pemerintahan Orde Baru, kita memasuki masa reformasi dan kebebasan di berbagai bidang mulai dari masyarakat, politik, ekonomi hingga kebijakan yang semakin terbuka. Masa ini dimulai ketika pemerintah saat itu menghapuskan peraturan izin penerbitan pers komersial. Oleh karena itu, lahirlah penerbit dan penulis baru dan lahirlah buku-buku dengan berbagai genre dan topik.

Di zaman modern saat ini, teknologi semakin berkembang dan selalu menghadirkan inovasi serta cara baru bagi masyarakat dalam membaca buku. Saat ini banyak orang yang beralih dari membaca buku kertas ke membaca buku elektronik. Banyak buku dalam bentuk PDF atau elektronik dan dapat dengan mudah diunduh oleh masyarakat dari Internet.

Sumber : Econo Channel

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mulai chat
1
Ada yang bisa kami bantu?
Semangat Pagi, Sahabat Nusantara 1 ada yang bisa kami bantu? PPDB 2024/2025 sudah dibuka yuk tanya admin lebih lanjut 😉